AKU HIDUP
Akhmad Khayatuddin, lahir di Semarang, Jawa Tengah 19 November 1994. Anak ke-4 dari 7
bersaudara pasangan Muhammad Lutfi dan Sholekhah, yang lahir dengan bobot 3 kg
lebih yang menjadikan satu-satunya bayi terberat dalam keluarganya. Ia hidup di
suatu tempat yang dahulu stereotip mengatakan bahwa tempat itu merupakan lokasi
perkumpulan preman-preman. Masyarakat menyebutnya Barutikung yang
berlokasi di kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara.
Sesuai dengan namanya, ia hidup dan belajar dalam lingkungan
keagamaan. Laki-laki yang penuh percaya diri ini pernah mengeyam bangku Sekolah
Dasar di SD Al-Irsyad Al-Islamiyyah Kecamatan Semarang Utara lulus pada tahun
2007. Kemudian ia melanjutkan ke MTs Pabelan dan nyantri di Pondok Peasantren
Pabelan Magelang, tak lama jelang setahun ia hijrah ke MTs Baitussalam dan
sekaligus nyantri di Pondok Pesantren Baitussalam Mijen Kota Semarang. Tahun
2013 ia menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Semarang sebagai Lulusan Terbaik
Angkatan XX pada jurusan Ilmu Pendidikan Alam. Kemudian melanjutkan untuk
kuliah di UIN Walisongo Semarang pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, serta aktivis di Lembaga Bahasa Mahasiswa Islam
(LBMI) HMI Komisariat Tarbiyah cabang Semarang.
Semasa kecil hingga remaja, Hayat (sebutannya) merupakan orang yang
aktif dalam berbagai keorganisasian. Kala duduk di bangku Sekolah Dasar, anak
ini aktif dalam mengikuti kegiatan Pramuka hingga meraih juara 1 dalam lomba
memecahkan sandi-sandi pramuka tingkat kota. Di MTs ia lebih menyukai seni
Kaligrafi dan Tarikh al-Islamiy, hingga ia menghasilkan karya seni
melukis kaligrafi di balik kaca di sanggar kaligrafi Pabelan dan berhail
menciptakan style “Kaligrafi Cina”, ia menamakannya. Di kelas dua
tsanawiyah, ia juara 1 dalam Festival Remaja Sholeh (FRESH) lomba Cerdas Cermat
Islam tingkat Kresidenan Semarang.
Waktu ABG, ia tidak hanya aktif dalam sekolah, seperti pernah
menjabat sebagai Wakil Ketua Redaksi Majalah La Tansa, Ketua Karya
Ilmiah Remaja (KIR), dan KaBag. Politik di OSIS MAN 2 Semarang. Saat menjadi
Ketua Redaksi, ia sering berkerja sama dengan JAWA POS Semarang. Hayat juga
menjadi Ambassador bagi sekolahnya dalam berbagai acara antar OSIS
se-kota Semarang bersama dua temannya, ketua dan wakil OSIS. Dan ia pernah
mengikuti lomba Karya Tulis Ilmiah (Paper Contest for Senior High School)
antar se-SMA/sederajat di Jawa Tengah dengan meraih juara 2, judulnya
“Mengatasi Abrasi, Rob, dan Banjir di Kota Semarang dengan LRB (Lubang Resapan
Biopori) Tanah”, serta ia berhasil menerapkan di kampungnya dari tahun 2010
hingga sekarang tidak terjadi Rob dan banjir lagi.
Di luar sekolah, Mbah Udin (sapa masyarakat) aktif dalam berbagai
kegiatan sosial. Seperti, ikut berkampanye dalam “Pemuda Anti Rokok dan
Narkoba” di Semarang. Selama dua periode ia menjabat sebagai Ketua IRMAS
al-Ma’ruf dan Ketua Karang Taruna Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara di tengah
remaja yang saat itu marak “Pergaulan Bebas”.
Sehari-harinya sebagai pengajar baca tulis al-Quran di kampung
halamannya, merupakan sarana untuk menyampaikan ilmu agama yang ia dapatkan.
Sekarang ia sedang membangun TPQ sebagai tempat dakwah hidupnya. Hal itu juga
merupakan keinginan dari kedua orang tuanya. Proses pembangunannya baru
mencapai 25%, ia sangat yakin nantinya tempat itu jika sudah berjalan akan
menjadi pusat belajar al-Quran di Barutikung.
Menurut masyarakat sekitar, keluarganya merupakan keluarga yang
dipandang mampu memperjuangkan agama Islam di tempat yang masih jahiliyah
tersebut. Suatu hari ada yang bilang kepadanya, “Wong seng iso ngerubah
Barutikung iki, kudune dudu wong asli kene. Akeh seng tau gagal, buktine wong
seng gagal mau malah dadi preman”. Hal itu tidak menyurutkan perjuangannya,
dan terbukti sekarang stereotip tersebut sudah lama hilang dengan diadakannya
acara-acara keagamaan.
Di perkuliahan ia menginginkan untuk melatih kembali bahasa
Arabnya. Walaupun, keterbatasan kosakata yang telah banyak terlupakan. Ia
mempunyai kepercayaan tinggi yang mebuatnya memutuskan akan melanjutkan
kuliahnya ke Imam Muhammed Islamic University (IMIU) di Riyad. Harapan besar
yang ia tanam dalam hatinya adalah menjadi Dosen di IMIU Riyad sekaligus
Pengusaha Tambang Minyak di Arab.
Profesi sebagai Pengajar menurutnya adalah suatu kewajiban,
layaknya pendakwah dalam menyampaikan keagamaan. Dan pengajar (guru maupun
dosen) haram baginya mengambil upah dari mengajar, menurut Hayat. Maka dari
itu, Hayat memiliki impian menjadi wirausahawan kelak. Sekarang, Hayat sedang
merintis usaha memproduksi tas disela-sela kegiatan kuliahnya. Ia menamai
usahanya dengan “Coffe Bag”, usahanya tersebut tidak lain dan tidak
bukan bertujuan mendongkrak perekonomian keluarga & kerabatnya di tengah
dampak persaingan ekonomi global.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar