2016/12/24

Langkah-langkah Penyusunan Karya Tulis Ilmiah



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Mempersiapkan Ide Dasar Karya Tulis Ilmiah
Tulisan bisa lahir karena adanya ide. Ide dapat diperoleh melalui berbagai saluran dan cara. Kita bisa mendapatkan ide melalui mata dengan cara mengamati dan melihat. Telinga dapat digunakan untuk mendengarkan sesuatu yang nantinya dapat menjadi ide.
Kita menghayal dengan emosi, dan khayalan itu bisa menjadi tulisan seperti puisi, cerpen, novel, pantun, drama, dan lainnya. Demikian pula ketika kita merenung dan berpikir nanti akan muncul ide. Ide yang baik diharapkan menjadi tulisan yang baik. Untuk itu, perlu diketahui kriteria ide yang mungkin bisa menjadi tulisan yang baik antara lain:
1.      Ide itu bermanfaat bagi masyarakat atau pembaca pada umumnya. Perlu dipikir ulang apakah ide yang muncul itu betul-betul bermanfaat untuk pembaca atau tidak. Ide yang bermanfaat itu antara lain mampu memberikan pencerahan kepada sebagian besar masyarakat atau pembaca, dan syukur bisa menjadi solusi atas masalah yang dihadapi.
2.      Objek yang ditulis benar-benar dikuasai penulis. Penguasaan materi seseorang pada bidang tertentu dapat diketahui pada kedalaman dan ketajaman analisis yang ditulis dalam karangan atau tulisan tersebut.
3.      Ide yang akan dituangkan dalam tulisan itu memiliki kelebihan dari tulisan lain meskipun tema dan objeknya sama.
4.      Gagasan itu merupakan sesuatu yang aktual. Aktualitas naskah tulisan juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi penulis. Untuk itu, di sini penulis harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan fenomena masyarakat dari hari ke hari.
5.      Penulis memiliki kemauan dan kemampuan. Kemauan merupakan modal utama bagi seseorang untuk melakukan kegiatan tulis menulis. Menjadi penulis tidak bisa dipaksakan, tetapi harus didorong dari keinginan sendiri yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam. Selain kemauan dan motivasi yang tinggi, untuk membuat suatu karangan atau tulisan diperlukan kemampuan. Kemampuan menulis di sini tidak berarti bahwa menulis itu bakat. Sebab bakat itu sendiri baru diketahui apabila orang berani mencoba dan berlatih terus menerus. Maka di sinilah berlaku “bisa karena biasa”.[1]
Pada umumnya untuk mengawali menyusun sebuah tulisan ilmiah, kita memerlukan sebuah ide, topik, dan judul sebagai pokok bahasan yang membatasi fokus tulisan kita. Batasan bahasan diperlukan agar kita dapat fokus pada suatu topik tertentu saja. Dengan begitu kita akan dapat menyajikan pembahasan yang padat, tetapi berisi, singkat, namun tajam, spesifik, tetapi berkualitas.[2]
Memilih ide dan topik sangat mungkin dipresepsi identik dengan memilih judul. Sesungguhnya keduanya berbeda. Ketika memilih topik, sudah ada gambaran mengenai isu-isu yang relevan seputar topik itu. Berbeda dengan aktivitas memilih judul, yang sesungguhnya tidak berbeda dengan membuat nama. Ketika penulis merumuskan judul karangan, sangat mungkin isu-isu yang menyertainya masih sangat kabur.[3]
Namun persoalannya adalah memfokuskan isi sebuah tulisan bukanlah pekerjaan yang mudah karena begitu banyaknya permasalan di sekitar kita yang butuh untuk didiskusikan, tetapi kita kesulitan untuk memilih salah satu di antaranya. Kesulitan itu dimungkinkan terjadi karena tiga sebab: pertama, kita kekurangan informasi tentang permasalahan-permasalah di sekitar kita sehingga kita sulit menentukan pilihan. Solusinya ialah kita harus banyak membaca dan berdiskusi untuk memunculkan ide yang tepat. Kedua, kita dihadapkan pada sejumlah pilihan yang menarik bagi kita sehingga menyulitkan untuk menentukan yang terbaik. Solusinya adalah kita harus mencari data dan fakta yang menunjang tulisan kita. Ketiga, ketika kita telah menetapkan sebuah pilihan, kita lantas ragu dengan pilihan itu sehingga tidak jadi menggunakannya. Alasannya, bisa jadi kita merasa pilihan itu ternyata tidak menarik, terlalu sulit dibahas, atau terlalu sedikit data yang bisa ditemukan. Pemecahannya ialah kita perlu mendiskusikan ide atau topik tersebut dengan teman atau orang lain yang dianggap mengerti untuk mendapatkan pandangan yang dapat meyakinkan pilihan kita terhadap topik itu.
Pilihan terhadap topik yang tepat tidak hanya berfungsi sebagai batasan masalah sebuah tulisan, tetapi juga berguna untuk merumuskan judul yang berkualitas.[4]
B.     Merumuskan Masalah
Setelah diperoleh ide dari tulisan ilmiah yang akan kita susun,  para penulis selanjutnya akan sampai pada tahap merumuskan masalah. Dalam merumuskan masalah, pasti ada masalah yang akan dikaji. Para penulis pemula biasanya akan mengalami kesulitan dalam menemukan masalah tersebut. Oleh karena itu, para penulis pemula sebaiknya banyak berlatih mengidentifikasi masalah dan merumuskannya secara tepat. Keahlian ini dapat dibangun dengan cara banyak berlatih. Cara menemukan masalah yang akan dikaji dapat dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik sebagai berikut:
1.      Kita dapat melihat hasil kesimpulan dan rekomendasi hasil tulisan atau riset yang pernah dilakukan oleh orang lain. Biasanya penulis membuat suatu rekomendasi yang menyatakan bahwa riset yang dilakukan belum selesai secara sempurna. Sehingga penulis lain dapat melanjutkan riset yang dinyatakan belum selesai secara utuh tersebut dan diperlukan pengkajian lebih lanjut.
2.      Kita dapat menemukan masalah dengan cara membaca teori yang berkaitan dengan topik atau ide yang akan dikaji. Jika kita membaca toeri dan referensi mengenai topik yang berkaitan dengan kajian kita, maka kemungkinan besar kita akan menemukan ide masalahnya.
3.      Teknik lain ialah dengan melihat masalah yang sudah dikaji oleh orang lain. Masalah yang sudah dikaji oleh orang lain dapat dijadikan sebagai bahan inspirasi untuk menemukan masalah sendiri yang kemudian dapat dikembangkan. Salah satu cara yang efektif ialah dengan memproduksi atau mengaplikasikan metode yang digunakan dalam konteks yang berbeda. Artinya, kita dapat mengembangkan masalah yang mirip dengan menggunakan data atau fakta yang berbeda, yang berasal dari konteks tempat dan waktu yang berbeda.
4.      Jika memungkinkan, kita dapat menemukan masalah yang baru dan layak untuk diteliti. Tentunya, ini memerlukan usaha yang tidak mudah karena kita perlu melakukan observasi atau eksperimen yang berulang-ulang.
Di dalam merumuskan masalah yang akan kita kembangkan nantinya, penulis juga hendaknya memahami konteks lingkungan masalah.
Disadari atau tidak, masalah yang akan dikaji pada umumnya terikat suatu konteks tertentu. Oleh karena itu, diperlukan proses-proses kegiatan dalam menggali masalah yang akan dikaji. Untuk dapat memahami konteks lingkungan, perlu dilakukan beberapa cara:
1.      Kita dapat melakukan diskusi dengan narasumber yang mempunyai informasi atau data mengenai masalah yang akan kita paparkan. Misalnya, perusahaan A yang bergerak dalam bidang penjualan komputer. Selanjutnya, orang-orang yang berkompeten dalam perusahaan tersebut akan kita hubungi dan wawancarai. Jika kita akan menulis mengenai masalah pemasaran, maka narasumber yang tepat untuk memperoleh gambaran masalah tersebut ialah Manajer Pemasaran.
2.      Tidak jarang pula masalah yang akan dikaji bersifat spesifik dan memerlukan narasumber yang benar-benar ahli. Dalam kasus ini, kita setidaknya harus memperoleh informasi atau masukan dari ahlinya. Misalnya dalam masalah pemasaran, kita dapat berkonsultasi atau membaca pandangan orang-orang yang ahli dalam bidang tersebut.
3.      Dalam rangka memperoleh pengetahuan mengenai konteks masalah, kita juga dapat mempelajari data sekunder terlebih dahulu. Kita dapat menemukan data sekunder yang tersedia di perusahaan-perusahaan, database online, dan sumber-sumber lainnya.
4.      Selain tiga pilihan teknik tersebut, kita juga dapat melakukan observasi terlebih dahulu di lokasi tempat kita akan melakukan riset atau mengkaji masalah yang memang menarik perhatian kita. Dari observasi tersebut, kita diharapkan dapat memperoleh gambaran mengenai masalah yang akan kita kaji tersebut.
Setelah kita memahami konteks lingkungan masalah yang akan dikaji, selanjutnya adalah proses spesifikasi masalah. Untuk melakukan proses spesifikasi masalah, dapat dimulai dari pernyataan yang bersifat umum, kemudian menuju komponen-komponen yang lebih spesifik.
Masalah umum: Kita ingin mengkaji masalah produk HP Nokia Communicator. Komponen-komponen yang spesifik, antara lain masalah fitur, harga, kualitas, target pasar, layanan purna jual, dan lainnya. Oleh karena itu, rumusan masalah yang layak untuk diteliti adalah:[5]
a.       Apa saja fitur-fitur baru yang terdapat dalam HP Nokia Communicator?
b.      Apakah kualitas produk menjadi pertimbangan utama bagi calon pembeli dari kalangan atas?
c.       Siapa saja target pasar untuk produk tersebut?
d.      Bagaimana agar produk tersebut mampu menarik minat konsumen di pasaran?
Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesa nantinya. Dari contoh di atas, dapat kita ketahui bahwa umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi sebagai berikut:
1.      Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
2.      Rumusan masalah hendaknya padat dan jelas.
3.      Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah.
4.      Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam pembuatan hipotesa.
5.      Masalah hendaknya menjadi dasar bagi judul penelitian.[6]
C.    Mengkaji Teori
Teori dan hipotesa adalah dua pengertian yang terlebih dahulu harus dipahami sebaik-baiknya di dalam mempelajari dasar-dasar penelitian suatu karya ilmiah. Teori dibutuhkan sebagai pegangan-pegangan pokok secara umum, sedangkan hipotesa dibutuhkan sebagai penjelasan problematika yang dicarikan pemecahan.
Seorang ahli ilmu pengetahuan tidak hanya bertujuan menemukan fakta, tetapi menemukan prinsip-prinsip yang terletak dibalik fakta prinsip utama yang dicari ialah dalil, yakni generalisasi atau kesimpulan yang berlaku umum. Dengan dalil ini ahli tersebut melanjutkan penyelidikannya untuk meramalkan rangkaian peristiwa berikutnya. Tentu saja diperlukan sejumlah data untuk dipakai sebagai pertimbangan penyimpulan sebuah dalil. Akan tetapi sekumpulan data saja belum memberi jalan yang lapang pada penyelidik, karena data baru mempunyai arti dan guna bila tersusun dalam satu sistem pemikiran yang disebut teori.[7]
Teori sebagai titik permulaan di dalam arti bahwa dari situlah bersumbernya hipotesa yang akan dibuktikan. Misalnya saja seorang penyelidik membangun teori yang berbunyi bahwa “manusia yang dibesarkan di dalam suasana yang bebas pada umumnya lebih berkesempatan untuk berhasil maju dengan usaha sendiri daripada yang dididik di dalam suasana penuh tekanan dan larangan”. Suatu hipotesa yang mungkin dihasilkan ialah bahwa “anak yang berasal dari keluarga di mana orang tua tidak meluaskannya keluar rumah untuk mengunjungi berbagai peristiwa, tidak dapat melakukan tugas luar yang diberikan oleh guru”. Dengan mengkhususkan persoalan ini pada batas-batas yang dapat diukur (nilai tugas luar yang diberikan pada anak itu dibandingkan dengan tugas luar murid-murid lainnya dari kategori “tertekan” dan dari kategori “bebas”), hipotesa itu dapat diuji benar dan salahnya. Dengan penyelidikan dalam berbagai situasi, dapat diperoleh data yang meyakinkan akan kebenaran teori tersebut. Sehingga hasilnya dapat dirumuskan dalam bentuk dalil, misalnya bahwa “motivasi kemajuan manusia yang terdidik dengan kebebasan adalah lebih baik daripada motivasi manusia yang terdidik dalam tekanan”.
Dengan dalil itu, penyelidik dapat meramalkan sifat dan bentuk-bentuk tingkah laku manusia di dalam bidang tersebut, untuk memungkinkan sampai pada dalil berikutnya. Dalil-dalil berikutnya itu dapat memperkuat dalil pertama, dapat pula merubah atau menggantinya. Karena itu teori tersebut tidak diberi sifat final.
D.    Menggali Data Lapangan
Verifikasi data atau proses pengumpulan data sangat diperlukan agar diperoleh data yang relevan untuk menguji hipotesis. Dalam kerangka berpikir ilmiah, verifikasi data termasuk berpikir empiris yang dilakukan setelah berpikir rasional selesai sampai membuahkan hipotesis. Pengamatan mulai dilakukan di lapangan untuk memperoleh data, yakni informasi yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. Data yang diperlukan bisa berupa data kualitatif, bisa pula data kuantitatif. Data kualitatif berkenaan dengan nilai seperti baik, sedang, kurang. Sedangkan data kuantitatif berkenaan dengan ukuran jumlah dalam bentuk angka-angka. Tanpa data yang benar dan akurat, pengujian hipotesis bisa keliru sehingga kesimpulan yang diperoleh menjadi salah. Kebenaran dan ketepatan data yang diperoleh bergantung pada alat pengumpul data yang digunakan (instrumen) dan sumber untuk memperoleh data (sampel).[8] Oleh karenanya, ada dua hal pokok dalam verifikasi data atau mengkaji data lapangan, yakni:
1.      Metode dan teknik pengumpulan data (instrumen).
Metode dan instrumen dalam penelitian berkenaan dengan cara bagaimana memperoleh data yang diperlukan. Metode lebih menekankan pada strategi, proses, dan pendekatan dalam memilih jenis, karakteristik, serta dimensi ruang dan waktu dari data yang diperlukan. Sedangkan instrumen menekankan kepada alat atau cara untuk menjaring data yang dibutuhkan.
Dalam studi mengenai metodologi penelitian, kita mengenal beberapa metode penelitian seperti metode penelitian  historis, deskriptif, ex post facto, dan eksperimen.
Metode penelitian historis digunakan apabila peneliti bermaksud mengungkapkan peristiwa atau kejadian pada masa lalu. Studi dokumenter adalah contoh dari metode ini. Sedangkan metode penelitian deskriptif, digunakan apabila bertujuan untuk mendeskripsikan atau menjelaskan peristiwa dan kejadian yang terjadi pada masa sekarang. Termasuk dalam metode ini adalah studi kasus, survai, studi pengembangan, dan studi korelasi.
Metode ex post facto dalam sebuah penelitian ditujukan untuk melihat dan mengkaji hubungan antara dua variabel atau lebih, di mana variabel yang dikaji telah terjadi sebelumnya melalui perlakuan orang lain. Ex post facto artinya sesudah fakta. Dalam penelitian ini, peneliti tidak perlu melakukan manipulasi atau perlakuan terhadap variabel bebas, sebab manipulasi telah terjadi oleh orang lain sebelum penelitian dilakukan.
Seperti halnya pada metode ex post facto, metode eksperimen mengkaji hubungan dua variabel atau lebih. Perbedaanya terletak dalam hal variabel bebas. Pada eksperimen peneliti harus melakukan manipulasi atau perlakuan terhadap variabel bebas, melakukan pengukuran sendiri terhadap variabel bebas dan variabel terikat, kemudian membandingkannya dengan variabel kontrol.
Instrumen penelitian adalah alat untuk memperoleh data. Alat ini harus dipilih sesuai dengan jenis data yang diinginkan. Instrumen sebagai alat pengumpul data pada hakikatnya adalah mengukur variabel penelitian. Instrumen yang lazim digunakan dalam penelitian antara lain kuesioner, observasi, dan tes. Sebagai alat pengumpul data, instrumen sangat penting peranannya. Sebab tanpa instrumen yang baik, tidak dapat diperoleh data yang betul-betul dapat dipercaya. Sehingga bisa mengakibatkan kesimpulan penelitian yang salah.[9]
2.      Populasi dan sampel
Populasi dan sampel dalam penelitian merupakan sumber data. Artinya, sifat-sifat atau karakteristik dari sekelompok subjek, gejala, atau objek. Sifat dan karakteristik tersebut dijaring melalui instrumen yang telah dipilih dan dipersiapkan oleh peneliti. Populasi tidak terbatas luasnya, bahkan ada yang tidak dapat dihitung jumlah dan besarnya sehingga tidak mungkin diteliti. Kalaupun diteliti, memerlukan biaya, tenaga, waktu yang sangat lama, dan tidak praktis. Oleh karena itu, perlu dipilih sebgian saja asal memiliki sifat-sifat yang sama dengan populasinya. Proses menarik sebagian subjek, gejala, atau objek yang ada pada populasi disebut sampel. Dengan demikian, penelitian dilakukan terhadap samnpel, tetapi hasilnya dapat menaksir populasi (sifat-sifat dan karakteristiknya).[10]
E.     Mengolah Data
Melalui instrumen yang telah dibahas di muka, data yang kita inginkan dapat kita peroleh dari unsur-unsur sampel. Pada dasarnya data yang telah kita peroleh untuk menguji hipotesis, sekurang-kurangnya untuk menjawab pertanyaan penelitian. Artinya, data itu diperlukan untuk membuktikan kebenaran hipotesis. Benar atau tidaknya dugaan itu akan dibuktikan melalui data yang kita peroleh dari lapangan. Oleh sebab itu, pada tahapan ini data sebagaimana adanya harus kita olah, kita susun sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk membuktikan benar dan tidaknya hipotesis yang telah diajukan atau dirumuskan.
Proses penyusunan, pengaturan, dan pengolahan data agar dapat digunakan untuk membenarkan atau menyalahkan hipotesis disebut pengolahan dan analisis data. Dengan pengolahan dimaksudkan untuk mengubah data kasar menjadi data yang lebih halus dan lebih bermakna. Sedangkan analisis dimaksudkan untuk mengkaji data dalam hubungannya dengan keperluan pengujian hipotesis penelitian. Alat yang digunakan untuk mengolah dan menganalisis data adalah statistika. Ada dua macam statistika yang bisa digunakan untuk mengolah dan menganalisis data, yakni statistika deskriptif dan statistika analitik atau inferensial. Statistik deskriptif terutama digunakan untuk mengolah data dan mendeskripsikan data dalam bentuk tampilan data yang lebih bermakna dan mudah dipahami oleh orang lain. Misalnya dalam bentuk tabel-tabel frekuensi, grafik, nilai rata-rata, simpangan baku, dan lain-lain. Statistik inferensial digunakan untuk keperluan pengujian hipotesis dan untuk membuat generalisasi data sampel terhadap populasinya.[11]
Dalam mengolah data biasanya ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Membersihkan data, artinya memeriksa kembali jawaban responden, apakah setiap pertanyaan dijawabnya; kalau dijawab, apakah cara menjawabnya betul, dan lain-lain.
2.      Membuat koding, artinya memberikan tanda atau kode agar mudah memeriksa jawaban.
3.      Melakukan skoring atau pemberian angka, khususnya kepada data yang dikuantifikasikan, dan menghitungnya untuk setiap jawaban responden.
4.      Menggolongkan kategori jawaban dalam tabel-tabel, baik tabel frekuensi maupun tebel skor atau nilai, sesuai dengan keperluan.
5.      Mengolah atau menghitung data dengan statistik deskriptif seperti proporsi, ranking, nilai rata-rata hitung, modus, median, simpangan baku, dan variansi, sesuai dengan kepentingan peneliti.
6.      Mendeskripsikan hasil-hasil perhitungan tersebut dalam bentuk tabel, grafik, dan lain-lain.
7.      Membuat interpretasi hasil pengolahan tersebut dalam bentuk pernyataan-pernyataan verbal sesuai dengan permasalahan penelitian.
8.      Analisis data lebih lanjut untuk uji hipotesis.
Analisis data adalah kelanjutan dari pengolahan data. Dalam pengolahan data, tekanan diberikan kepada pengubahan data mentah menjadi data masak melalui penggunaan statistika deskriptif agar lebih mudah dibaca dan ditafsirkan. Analisis data tekanannya kepada menguji data (yang diperoleh melalui statistik deskriptif) dengan menggunakan statistik analitik untuk menguji hipotesis.[12]
Adapun dalam proses pengolahan data, kita bisa menggunakan fasilitas komputer dengan paket program yang tersedia seperti WordStar, Dbase III plus, SPSS/PC+, BMDPC, dan SAS. Melalui program yang tersedia tadi, kita dapat memasukkan data dan membuat tabel frekuensi sesuai dengan data yang kita peroleh. Tahap berikutnya adalah editing, yaitu mengkoreksi kesalahan-kesalahan yang ditemui setelah membaca tabel frekuensi. Mengedit sangat penting untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan yang muncul dalam proses pengumpulan atau memasukkan data.[13]
F.     Menarik Kesimpulan
Suatu kesimpulan dalam penelitian bukanlah merupakan suatu karangan atau diambil dari pembicaraan-pembicaraan lain, akan tetapi hasil suatu proses tertentu yaitu “menarik”, dalam arti “memindahkan” sesuatu dari suatu tempat ke tempat yang lain. Menarik kesimpulan di sini harus mendasar atas semua data yang diperoleh dalam kegiatan penelitian. Dengan kata lain, penarikan kesimpulan harus didasarkan atas data, bukan atas angan-angan atau keinginan peneliti.[14]
Bagian pokok yang merupakan pengarah kegiatan penelitian adalah perumusan problematika atau rumusan masalah. Di dalam problematika ini peneliti mengajukan pertanyaan terhadap dirinya tentang hal-hal yang akan dicari jawabnya  melalui kegiatan penelitian. Sehubungan dengan pertanyaan inilah maka peneliti mencoba mencari jawaban sementara yang disebut hipotesis. Sedangkan kesimpulan yang ditarik berdasarkan data yang telah dikumpulkan, adalah merupakan jawaban, benar-benar jawaban yang dicari, walaupun tidak selalu menyenangkan hatinya.
Simpulan atau konklusi merupakan rangkuman dari ide-ide yang telah disajikan dalam semua tulisan. Simpulan atau konklusi ini merupakan pemikiran prespektif akhir penulis kepada pembaca.[15]
Oleh karena itu harus tampak jelas hubungan antara problematik, hipotesis, dan kesimpulan.
Apabila kesimpulan penelitian merupakan jawaban dari problematik yang dikemukakan, maka isi maupun banyaknya kesimpulan yang dibuat juga harus sama dengan isi dan banyaknya problematik. Sebagai ilustrasi dapat dikemukankan contoh berikut:
Problematik atau rumusan masalah
1.      Apakah orang tua murid di daerah pedesaan memberikan motivasi belajar yang sama dengan orang tua murid di kota?
2.      Apakah ayah mempunyai peranan yang sama dengan ibu dalam memberikan motivasi belajar, baik di daerah pedesaan maupun di kota?
Hipotesis
1.      Orang tua murid di daerah pedesaan memberikan motivasi belajar yang sama besar dengan orang tua di kota.
2.      Ayah dan ibu memberikan motivasi belajar yang sama besar kepada anak-anaknya, baik di daerah pedesaan maupun di kota.
Kesimpulan penelitian (salah satu kemungkinan)
1.      Orang tua murid di daerah pedesaan tidak dapat memberikan motivasi belajar sebesar yang diberikan oleh orang tua di kota.
2.      Ada perbedaan yang signifikan antara ayah dan ibu di dalam memberiakn motivasi belajar, baik bagi orang tua murid di daerah pedesaan maupun di kota.[16]
Kesimpulan di sini juga bisa memuat implikasi dari penelitian tersebut dan ada kalanya disarankan pula penelitian lanjutan. Sifatnya berbeda dengan ikhtisar yang funngsinya agar pembaca dapat mengetahui dengan cepat hasil penelitian itu sebagai keseluruhan.[17]


                [1] Lasa Hs., Menulis Itu Segampang Ngomong, . . ., hlm. 173-176.
                [2] Mudrajad Kuncoro, Mahir Menulis; Kiat Jitu Menulis Artikel Opini, Kolom, dan Resensi Buku, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2009), hlm. 47.
                [3] Sudarwan Danim, Karya Tulis Inovatif, . . ., hlm. 33.
                [4] Mudrajad Kuncoro, Mahir Menulis; Kiat Jitu Menulis Artikel Opini, Kolom, dan Resensi Buku,. . ., hlm. 47.
                [5] Jonathan Sarwono, Pintar Menulis Karangan Ilmiah, (Yogyakarta: C.V Andi Offset, 2010), hlm. 7.
                [6] Moh Nadzir, Metode Penelitian, (Bandung: Ghalia Indonesia, 2009), hlm. 120.
                [7] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, (Bandung: Tarsito, 1990), hlm. 63.
                [8] Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, . . ., hlm. 50.
                [9] Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah,. . ., hlm. 52-58.
                [10] Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah,. . ., hlm. 71.
                [11] Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah,. . . , hlm. 76-77.
                [12] Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah,. . . , hlm.78.
                [13] Misri Singarimbum, dkk, Metode Penelitian Survai, (Jakarta: LP3ES, 2011), hlm. 241.
                [14] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), hlm. 311.
                [15] Sudarwan Danim, Karya Tulis Inovatif, . . ., hlm. 38.
                [16] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian,. . ., hlm. 312.
                [17] Misri Singarimbum, dkk, Metode Penelitian Survai, . . ., hlm. 320.