NAFS, QALB, DAN ‘AQL (Nafsu, Hati, dan Akal)
Akhmad
Khayatuddin (133211030)
A.
Abstrak
Dalam diri Manusia terdapat 3 Aspek
Kehidupan, yakni NAFSU, HATI, & AKAL. Ketiga-tiganya itu saling berkaitan.
Seandainya Allah memberimu Akal tanpa Nafsu, tentu selamanya kau akan taat
tanpa pernah maksiat. Seandainya Dia memberimu Nafsu tanpa Akal, maka selamanya
dirimu akan seperti binatang. Dan melalui Hati, Nafsu akan dipatahkan
ajakannya.
Kata kunci: Nafs (Nafsu), Qalb
(Hati), dan ‘Aql (Akal).
B.
Latar Belakang
Saat ini kita hidup di zaman ketika
berbagai hakikat Islam diyakini hanya dengan akal, tidak dengan hati. Saat
inilah kita membutuhkan hati yang dipenuhi cinta kepada Allah, hati yang
diliputi takut kepada Allah semata, dan hati yang yakin bahwa apa yang ada di
sisi Allah lebih baik dari pada apa pun yang ada dalam genggaman.
Ibnu ‘Athaillah (2013: 13) dalam
bukunya Tâj
al-‘Arûs mengatakan bahwa, setiap muslim
mungkin mengalami saat-saat bercahaya, ketika hati dan jiwanya diliputi iman,
rasa khusyuk, dan perasaan dekat kepada Allah S.W.T.
إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ
هُم مُّحۡسِنُونَ ١٢٨
“Sesungguhnya
Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”.
(QS. An-Nahl: 128)
Namun pergaulan dengan sesama manusia dan makhluk lain secara
perlahan meredupkan cahaya iman dan kedekatan kepada Allah sehingga hembusan
nafsu dunia yang kencang memadamkannya serta menggelapkan hati dan jiwanya.
Di sisi lain, manusia diciptakan
dalam bentuk yang sempurna sebab dilengkapi dengan sesuatu yang tidak diberikan
kepada makhluk selain manusia, yaitu akal. Oleh karena manusia merupakan
makhluk yang diciptakan dengan sempurna, maka dalam diri manusia terdapat semua
hal yang terdapat pada makhluk selain manusia (nafsu) dan bahkan memiliki
sesuatu yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia (akal) dan juga manusia
dibekali dengan hati sebagai penyeimbang antara akal dan nafsu.
A. Rivey Siregar (1998: 57) adanya
tasawuf yang memiliki tiga tujuan dasar, yaitu penguasaan dan pengendalian hawa
nafsu, memanfaatkan akal untuk ma’rifatullah, dan bagaimana hati bisa
bercahaya dengan dekat kepada Allah S.W.T.
Berdasarkan inilah kita dapat
mengetahui nafsu beserta bahayanya agar kita bisa mengendalikannya. Kemudian
kita dapat memahami fungsi akal sehingga kita bisa mengembangkannya. Dan yang
terakhir mengerti hati agar kita mendapatkan hikmah dari hati yang bersih.
C.
Rumus Masalah
1.
Bagaimanakah
nafsu dari sisi Tasawuf?
2.
Bagaimanakah
al-qalb dari sisi Tasawuf?
3.
Bagaimanakah
akal dari sisi Tasawuf?
BAB. II
PEMBAHASAN
I.
Nafsu
A.
Pengertian
Nafsu
Dalam Lisan al-‘Arab (2015),
nafsu berasal dari bahasa Arab Nafs yang bermakana jiwa, diri, ego.
Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, jiwa diartikan dengan: (1) ruh
manusia (yang ada di dalam tubuh dan menghidupkan) atau nyawa; (2) seluruh
kehidupan batin manusia (yang terjadi dari perasaan, pikiran, angan-angan, dan
sebagainya) atau keinginan.
Totok Jumantoro, dkk (2005: 158-159)
mengartikan Nafs dengan dimensi manusia yang berada diantara ruh
(roh) yang berupa cahaya dan jism (jasmani) berupa kegelapan. Dalam
kajian tasawuf Nafs memilikki dua arti, yaitu pertama, kekuatan
hawa nafsu (amarah, syahwat, dan perut) yang terdapat dalam jiwa manusia, dan
merupakan sumber bagi timbulnya akhlak. Kedua, jiwa rohani yang bersifat
lathif (lembut) dan rabbany (ketuhanan), yang merupakan hakikat
diri dan zat manusia itu sendiri yang berfungsi sangat besar dalam kehidupan.
Makna tersebut dipertajam oleh
Quraish Shihab (1996: 285-286) yang berpendapat, bahwa kata nafs dalam al-Quran mempunyai aneka
makna, seperti sebagai sesuatu yang menggambarkan totalitas manusia sebagai
suatu yang merupakan hasil perpaduan jasmani dan ruhani manusia. Perpaduan yang
kemudian menjadikan yang bersangkutan mengenal perasaan, emosi, dan pengetahuan
serta dikenal dan dibedakan dengan manusia-manusia lainnya.
مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا
بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ
جَمِيعٗا وَمَنۡ أَحۡيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحۡيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعٗاۚ وَلَقَدۡ
جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُم بَعۡدَ
ذَٰلِكَ فِي ٱلۡأَرۡضِ لَمُسۡرِفُونَ ٣٢
“,
barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh)
orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan
dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara
kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan
manusia semuanya...” (QS. Al-Maidah: 32)
Namun, secara umum dapat
dikatakan bahwa nafs dalam konteks
pembicaraan manusia, menunjuk kepada sisi dalam manusia yang berpotensi baik
dan buruk.
B.
Jenis-jenis
Nafsu
Menurut al-Ghazali seperti yang dikutip
oleh Amin Syukur (2002: 67), nafs mengandung dua makna ganda, yaitu:
1.
Pertama,
dimaksudkan berkolaborasinya an-Nafs al-Ammarah (kekuatan marah),
وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِيٓۚ
إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ
رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٥٣
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena
sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang
diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha
Penyanyang.” (QS. Yusuf: 53)
dan an-Nafs
al-Hayawaniyah (keinginan biologis/syahwat) pada diri manusia.
2.
Kedua,
suatu perasaan halus (lathifah), yaitu jiwa manusia dan substansinya,
tetapi berbeda-beda sesuai dengan ahwal (kondisi-kondisi ruhani) masing-masing.
Inilah hakekat manusia yang membedakannya dari nafsu. Jika ia tunduk di bawah
perintah Allah dan jauh dari kegoncangan yang disebabkan nafsu syahwat disebut
dengan an-Nafs al-Muthma’innah (jiwa yang tentram). Jiwa inilah yang
merupakan hakikat manusia yang dapat mengetahui Allah dan seluruh yang
diketahuinya.
يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ
٢٧ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ
مَّرۡضِيَّةٗ ٢٨
“Hai jiwa
yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
diridhai-Nya.” (QS. Al-Fajr: 27-28)
Jika
ketundukannya tidak sempurna, hemat al-Ghazali, bahkan menjadi pendorong bagi
nafsu syahwat dan memperlihatkan keinginan kepadanya, maka nafsu itu dinamai
dengan an-Nafs al-Lawwamah.
وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ
ٱللَّوَّامَةِ ٢
“Dan aku
bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (QS. Al-Qiyamah:
2)
Dan jika nafs ini tidak
bisa tenang secara sempurna tetapi terus berusaha untuk memerangi syahwatnya,
karena selalu mencela pemiliknya ketika kendor semangat ibadahnya kepada Allah
SWT. Atau bisa dipahami bahwa an-Nafs
al-Lawwamah ini adalah jiwa yang masih labil, gelisah, terkadang melakukan
kebaikan dan terkadang masih melakukan kejahatan, akan tetapi ia selalu
menyesali diri.
Selain diatas, Al-Jilli (Totok J: 161-163)
juga menambahkan ada beberapa jenis Nafs yang lain, berikut:
1.
Nafs
Jamaliyyah
Ini merupakan perumpamaan orang yang jiwanya selalu mementingkan
dirinya sendiri. Ia tidak memperdulikan kesusahan orang lain asalkan dirinya
selamat dan mendapat keuntungan, tidak ada sedikitpun dalam hatinya rasa
santun, kasihan, empati maupun simpati. Dengan kata lain kecerdasan emosional
telah hilang, lenyap dari dirinya.
2.
Nafs
Kuliyyah
Jiwa universal yang ada dibawah aql al-awal dan
menggambarkan dimensi reseptif dari awal spiritual. Jiwa universal ini lebih
agung, lebih lembut dari makhluk lainnya.
3.
Nafs
Ilahiyah (Jiwa Ketuhanan)
An-nafs ilahiyyah diarahkan bahwa Allah bersama dengan segenap
sifat-Nya, yakni Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Maha Berkehendak.
4.
Nafs
Al-Mulhammah
An-Nafs al-Mulhammah dapat
diartikan jiwa yang terilhami. Sifat jiwa ini menjauhkan manusia dari kejahatan
dan mampu melihat sarana yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan. Jiwa ini
melakukan perjalanannya dibawah pengawasan Allah. An-Nafs al-Mulhammah
merupakan anak tangga ke tiga (ihsan) dalam pengetahuan.
5.
Nafs
Al-Kamilah
Insan kamil, jiwa paripurna. Jiwa ini merupakan tahap terakhir
dalam perkembangan jiwa menuju sang jiwa. Hal ini merupakan tahap islam yang
hakiki.
C.
Bahaya
Mengikuti Hawa Nafsu
Sesuai pengertian sebelumnya, nafsu syahwat merupakan bentuk nafs
yang harus diperang. Karena apabila kita mengikutinya maka kita tidak akan
mendapat manfaat apapun bahkan mendapat madharat (keburukan) hingga
murka Allah S.W.T. Hal ini sesuai dengan perkataan Ibnu ‘Athaillah (271-272):
“Sungguh
aneh, banyak orang yang senang dengan nafsu padahal ia merupakan sumber
keburukan. Sebaliknya, ia meninggalkan Allah padahal Dia sumber kebaikan”. “Kau
berteman dengan nafsumu selama 40 tahun tanpa ada manfaat yang kau dapat”.
“Karena kau mengetahui hakikat nafsumu dan bahwa ia menyeretmu kepada murka dan
hukuman Allah, maka kau harus menggunakannya dalam ketaatan setelah selama
bertahun-tahun kau bermaksiat akibat dorongan nafsumu”.
II.
Al-Qalb
A.
Pengertian
Al-Qalb
Al-Qalb secara umum diartikan dengan hati. Secara khusus al-Qalb
memiliki dua arti, yaitu pertama adalah hati jasmani (al-Qalb
al-Jasmani), yaitu daging khusus yang berbentuk seperti jantung pisang yang
terletak di dalam rongga dada sebelah kiri. Kedua, menyangkut jiwa yang
bersifat lathif (halus) rabbani (mempunyai sifat ketuhanan) dan ruhaniyat.
Hati merupakan tempat perubahan dan pasang surut yang konstan. Dan hati juga
merupakan organ instuisi supra rasional berbagai realitas transenden dengan
manusia. Serta hati merupakan tempat Jihad Akbar (jihad besar), dan jiwa
rendah (nafsu). Perang antara dua kekuatan inilah yang menguasai hati manusia.
B.
Fungsi
Al-Qalb
Dalam kajian tasawuf (Totok J, dkk: 183), hati
mempunyai fungsi sebagai berikut:
1.
Sebagai
alat untuk menemukan penghayatan ma’rifat kepada Allah S.W.T, karena
dengan hati inilah manusia bisa menghayati segala rahasia yang ada di alam
gaib. Hati itulah yang alim terhadap Allah S.W.T.
2.
Hati
berfungsi untuk beramal hanya kepada Allah dan berusaha menuju Allah, sedangkan
anggota badan lainnya hanyalah pelayan dan sekaligus alat yang dipergunakan
oleh hati.
3.
Hati
pula yang taat kepada Allah S.W.T, adapun gerak ibadah semua anggota badan
adalah pancaran hatinya.
C.
Hikmah
Al-Qalb yang Bersih
Ibnu ‘Athaillah (118) pernah
berkata, “Bersihkan hatimu dari aib, niscaya Allah membuka pintu gaib”.
Artinya, bersihkan hatimu dari segala aib dan keburukan, karena dalam
kebersihan terdapat ketundukan, kerendahan, dan rasa takut. Jika hatimu bersih
dari aib kemudian kau mendekat kepada Allah, mengetuk pintu-Nya, dan meminta
dibukakan rahmat-Nya, niscaya Allah akan membukakan pintu hidayah dan memberimu
hikmah. Dalam hal itu, pintu gaib yang berisi sejumlah rahasia hikmah yang
bermacam-macam akan tersingkap. Allah akan memperlihatkannya kepada hamba-Nya
yang shalih sesuai dengan tingkat kedekatan mereka.
III.
Akal
A.
Pengertian
Akal
Taufiq P (2005:193), berasal dari
kata kerja ‘aqala-ya’qilu-‘aqlan. Secara harfiah atau etimologi ’aql
diartikan sebagai al-imsak (menahan), al-ribath (ikatan), al-hijr
(menahan), al-nahy (melarang) dan man‟u (mencegah). Maka yang disebut Orang
berakal adalah orang yang mampu menahan dan mengikat hawa nafsunya.
Merujuk (KBBI, 2013), akal mempunyai beberapa pengertian yang berbeda, yaitu: (1) daya pikir (untuk mengerti, dsb); (2) daya, upaya,
cara melakukan sesuatu; (3) tipu daya,
muslihat, dan (4) kemampuan melihat
cara-cara memahami lingkungan.
Secara leksikal (bahasa), kata al-‘Aql di dalam Kamus Kontemporer Arab Indonesia
merupakan sinonim bagi kata hija yang
berarti pikiran, otak, dan alasan. Sedangkan di dalam Kamus Al-Munawwir
Arab-Indonesia kata al-‘Aql juga
berarti Quwwah al-Idrak (daya yang
dapat menangkap, mempersepsi, memahami), adz-Dzakirah
(ingatan), al-Quwwah al-‘Aqilah (daya
atau kekuatan yang dapat berfikir), dan
al-Fahm (pengertian).
Menurut Imam al-Ghazali (M
Yaniyullah, 2005: 143), kata al-„aql
memiliki empat hakikat, yaitu :
1.
Pertama,
sesuatu yang siap menerima pengetahuan teoretis dan mengatur kepandaian berpikir
yang tersembunyi.
2.
Kedua,
pengetahuan yang ada pada diri manusia sejak usia anak dapat menentukan yang
mungkin bagi yang perkara yang mungkin dan mustahil bagi yang perkara yang
mustahil. Pengertian ini, hematnya, sama dengan hati, yaitu perasaan halus (lathifah).
3.
Ketiga,
pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman /empirik.
4.
Keempat,
kekuatan gharizah (insting) untuk
mengetahui konsekuensi berbagai masalah dan menahan keinginan untuk mendapatkan
kelezatan sesaat.
Al-‘Aql juga bisa dipahami dalam dua makna yaitu:
1.
Otak
yang berada di dalam kepala bagian belakang.
2.
Potensi
lathifah robbaniyyah yang mempunyai
potensi akademik, mengetahui hakekat segala sesuatu.
B.
Fungsi
Akal
Manfaat atau fungsi al-‘Aql
adalah sebagai alat yang berpotensi menyerap ilmu pengetahuan, membedakan baik
dan buruk, dan jalan memperoleh iman sejati. Akal juga dapat berfungsi sebagai
energi yang mampu memperoleh, menyimpan dan mengeluarkan pengetahuan. Sedang
secara psikologis akal memiliki fungsi kognisi (daya cipta). Kognisi adalah
suatu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengalaman kognisi, seperti:
mengamati, melihat, memperhatikan, berpendapat, berimajinasi, berpikir,
memprediksi, mempertimbangkan, menduga dan menilai.
Menurut Al-Jilli (Totok J: 12), akal
memiliki tiga fungsi sesuai tahapannya:
1.
Al-‘Aql
al-Awwal (akal pertama), sebagai khazanah
pengetahuan Ilahi dalam eksistensi-Nya.
2.
Al-‘Aql
al-Kulli (akal universal), sebagai presepsi
rohani terhadap akal pertama.
3.
Al-‘Aql
Ma’asy (akal biasa), sebagai bentuk dari
hasil pemikiran akal universal, yakni berupa ide pemikiran.
C.
Cara
Mengembangkan Akal
1.
Mengatur
pola makan
Mengatur
pola makan terutama nutrisi yang baik untuk tubuh, itu salah satu cara hidup
sehat yang akan bermanfaat bagi proses perkembangan potensi akal. Hal ini
sesuai pepatah Arab:
"العقل
السّليم في جسم السّليم"
“Akal yang sehat berada dalam jiwa yang sehat”
2.
Membaca
Dengan
membaca manusia akan dapat memperluas wawasan khazanah keilmuan. Dengan
berwawasan secara otomatis potensi akal turut berkembang. Allah S.W.T telah
berfirman dalam surah al-Alaq ayat pertama:
ٱقۡرَأۡ
بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١
“Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”
3.
Bergaul
dengan sesama
Sering sosialisasi dengan orang-orang yang arif akan berdampak pada
pola pikir dan akhlaq kita. Ilmu dari mereka akan bertansformasi ke diri kita.
Dan bergaul dengan alam sekitar merupakan bentuk muhasabah kita kepada
sang Pencipta, dengan selalu mengingat akan kebesaran-Nya.
4.
Belajar
Imam Syafi’i
pernah mengatakan, “Jika kau ingin mengembangkan potensi akalmu, maka bergaulah
dan belajarlah”.
DAFTAR PUSTAKA
Ibnu ‘Athaillah. 2013. Tâj al-‘Arûs; Pelatihan Lengkap Mendidik
Jiwa (Disertasi
Ulasan Dr. Muhammad Najdat. Jakarta: Zaman.
Siregar, A. Rivey. 1998. Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo
Sufisme. Jakarta: Rajawali
Press.
Ristek Muslim. 2015. Lisan al-‘Arab. Jakarta: Lidwa Pustaka.
Jumantoro, Totok dan Samsul M. A. 2005. Kamus Ilmu Tasawuf.
Wonosobo: Amzah.
Shihab, M. Quraish. 1996. Wawasan
al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Berbagai
Persoalan Umat. Bandung:
Mizan.
Syukur, Amin. 2002. Menggugat
Tasawwuf, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Pasiak, Taufiq. 2005. Revolusi
IQ/EQ/SQ; Antara Neurosains dan al-Quran.
Jakarta:
Mizan.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Delta Auliya, M. Yaniyullah. 2005. Melejitkan Kecerdasan Hati dan Otak. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.