Review
KHR. ASNAWI Satu Abad QUDSIYYAH Jejak Kiprah Santri Menara
(Seri Hikayat Ulama-Santri Nusantara)
Judul buku : KHR. Asnawi Satu
Abad Qudsiyyah Jejak Kiprah Santri Menara
Penulis : H. M. Ihsan, M. Zainal Anwar, M.
Rikza Chamami, Makrus Ali, Khasan Ubaidillah, Syaifullah Amin, Furqan Ulya
Himawan
Penerbit : Pustaka
Compass
Tahun Terbir : 2016
Tebal : xxviii + 246
halaman, 15 x 21 cm
Sinopsis
Buku ini merupakan dokumentasi sejarah yang menarsaikan tentang awal
mula berdirinya pendirian, pertumbuhan, dan perkembangan Madrasah Qudsiyyah,
yakni sebuah tempat kegiatan belajar mengajar yang didirikan oleh KHR. Asnawi
di kota Kudus provinsi Jawa Tengah pada tahun 1337 H/1919 M. Didalamnya pula,
terdapat argumen bahwa daya tahan suatu madrasah terletak pada kombinasi antara
komitmen terhadap visi dan nilai dasar ketika awal didirikan serta kemampuannya
beradaptasi dengan perubahan dan perkembangan jaman. Madrasah Qudsiyyah
bercirikan kesetiannya terhadap kurikulum berbasis ajaran Ahlu as-Sunnah wa
al-Jama’ah atau Sunnisme dengan mengkombinasikan pada mata pelajaran modern
atau yang ditetapkan oleh pemerintahan melalui kementerian agama dan pendidikan
Indonesia.
Ulasan dan Komentar
Pertama pada halaman 49, “Apalagi, dokumentasi yang menarasikan tentang
tumbuh kembang madrasah di Indonesia masih sangat terbatas. Diantaranya adalah
madrasah Pabelan Magelang-Jawa Tengah”. Mengingatkan Saya sebagai alumni Pondok
Pesantren Pabelan Munkid (Muntilan Kidul), Magelang. Walaupun hanya satu tahun
di pondok tersebut, tapi Saya sudah mengenal bagaimana sejarah pondok
(madrasah) itu berdiri. Dan Saya membenarkan hal itu, karena madrasah tersebut
sudah berdiri sejak lama sebelum Indonesia merdeka. Seharusnya benar adanya,
para sejarawan untuk mengacu pada dokumentasi-dokumentasi semisal ini. Karena
mereka adalah sanad yang shahih.
Kedua pada halaman 72, paragraf terakhir dari “Kota Santri Semasa
Kolonial”. Itu menarasikan “Pada tahun 1941, becak memiliki citra hanya untuk
mengangkut anak-anak, khususnya untuk pergi ke sekolah. Sementara orang tua
masih malu-malu jika menggunakannya. Ongkos penyewaannya sebesar 20 sen per
jamnya, hanya untuk berputar-putar di dalam kota saja”. Dinarasikannya bahwa
orang tua malu menggunakannya, Saya sebagai anak dari tukang becak (Muhammad
Lutfi) di Pasar Johar Semarang menyatakan “Tidak benar”. Hal itu bukan karena
rasa malu, akan tetapi ongkos yang menurut mereka mahal bila kita telisik lagi
pada footnote yang ada. Mayoritas tukang becak mereka adalah perokok aktif,
jadi sudah sewajarnya ongkos naik becak lebih mahal dari harga rokok.
Ketiga pada halaman 132, paragraf pertama dari “KHR. ASNAWI: Sang
Perintis”. Yakni diceritarikan kelahiran Raden Ahmad Syamsi, buah hati pasangan
H. Abdullah Husnin dan Raden Sarbinah terdapat tradisi babaran. Yaitu
tradisi ketika ada pasangan suami-istri yang habis melahirkan jabang bayi.
Tradisi itu mengingatkan Saya tentang pekerjaan Ibu Saya (Sholekhah), yakni
seorang dukun bayi yang amat terampil dalam urusan ibu hamil dan
melahirkan serta jabang bayi. Amat kental dan terbiasa akan hal itu. Hal dimana
rasa syukur antara kedua orang tua jabang bayi dan masyarakat sekitar dengan
lahirnya seorang manusia kedunia. Apalagi manusia itu adalah dari keturunan
orang yang shaleh dan terhormat.
Keempat pada halaman 182, penegasan kembali “Abdurrahman Mas’ud”. Prof.
H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D membuka narasi. “Terorisme bukanlah sebuah
rangkaian pekerjaan yang bisa ditoleransi karena bukan hanya mengancam
pemerintahan saja, melainkan terbukti memakan banyak korban nyawa yang tidak
mengerti urasan apapun tentang perebutan kekuasaan misalnya”. Dan seperti kata
Gus Dur, “Terorisme bukan masalah sepele, karenanya terorisme harus ditangani
secara serius. Dan tentunya penanganan serius ini harus dilakukan karena
radikalisme dan terorisme sangat bertentangan dengan budaya pendidikan
madrasah, pesantren dan juga budaya Islam di Indonesia”. Dan sebagai alumni
penuntut ilmu di madrasah dan pesantren, saya membenarkan hal itu selama 6
tahun, Saya belum pernah mendapatakan pembelajaran tentang radikalisme dan
terorisme. Karena Islam itu Rahmatan lil ‘Aalamiin.
Kelebihan
Hal yang membuat Saya menyukai adalah alur tulisannya yang mampu membawa
saya untuk kembali mengulang kejadian yang serupa (flashback) dengan gaya
bahasa yang sesuai karakter penulis.
Dari segi kertas, kertasnya menggunakan kertas berwarna krem
(putih kekuningan) itu menjadikan enak dipandang dan menyehatkan mata, jadi
tidak merasa letih.
Pemberian data yang sangat valid berupa tabel data, dokumentasi foto,
dan narasi tulisan asli membuat pembaca semakin yakin sejarah itu pernah
terjadi.
Apalagi soal para penulis yang begitu banyak, mereka juga para alumnus
madrasah Qudsiyyah. Mereka itu merupakan sanad yang mutawattir (shahih).
Kesaksian para alumninya yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka
juga telah menjadi orang-orang tersohor.
Tidak lupa pula khazanah daftar pustaka yang begitu melimpah membuat
Saya takjub, dengan penuisan buku ini.
Kekurangan
Ketidak teletian ternyata masih menjadi kekurang bagi semua para
penerbit, editor dan jajarannya. Sudah jelas bahwa buku ini tokohnya adalah
KHR. Asnawi, dibagian bilik atas tulisan ditulis K.H.R. Arwani itu siapa? Perlu
adanya ketelitian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar