2017/01/05

Resensi Buku



Review KHR. ASNAWI Satu Abad QUDSIYYAH Jejak Kiprah Santri Menara
(Seri Hikayat Ulama-Santri Nusantara)


Judul buku      : KHR. Asnawi Satu Abad Qudsiyyah Jejak Kiprah Santri Menara
Penulis             : H. M. Ihsan, M. Zainal Anwar, M. Rikza Chamami, Makrus Ali, Khasan Ubaidillah, Syaifullah Amin, Furqan Ulya Himawan
Penerbit           : Pustaka Compass
Tahun Terbir   : 2016
Tebal               : xxviii + 246 halaman, 15 x 21 cm
 
Sinopsis
Buku ini merupakan dokumentasi sejarah yang menarsaikan tentang awal mula berdirinya pendirian, pertumbuhan, dan perkembangan Madrasah Qudsiyyah, yakni sebuah tempat kegiatan belajar mengajar yang didirikan oleh KHR. Asnawi di kota Kudus provinsi Jawa Tengah pada tahun 1337 H/1919 M. Didalamnya pula, terdapat argumen bahwa daya tahan suatu madrasah terletak pada kombinasi antara komitmen terhadap visi dan nilai dasar ketika awal didirikan serta kemampuannya beradaptasi dengan perubahan dan perkembangan jaman. Madrasah Qudsiyyah bercirikan kesetiannya terhadap kurikulum berbasis ajaran Ahlu as-Sunnah wa al-Jama’ah atau Sunnisme dengan mengkombinasikan pada mata pelajaran modern atau yang ditetapkan oleh pemerintahan melalui kementerian agama dan pendidikan Indonesia.

Ulasan dan Komentar
Pertama pada halaman 49, “Apalagi, dokumentasi yang menarasikan tentang tumbuh kembang madrasah di Indonesia masih sangat terbatas. Diantaranya adalah madrasah Pabelan Magelang-Jawa Tengah”. Mengingatkan Saya sebagai alumni Pondok Pesantren Pabelan Munkid (Muntilan Kidul), Magelang. Walaupun hanya satu tahun di pondok tersebut, tapi Saya sudah mengenal bagaimana sejarah pondok (madrasah) itu berdiri. Dan Saya membenarkan hal itu, karena madrasah tersebut sudah berdiri sejak lama sebelum Indonesia merdeka. Seharusnya benar adanya, para sejarawan untuk mengacu pada dokumentasi-dokumentasi semisal ini. Karena mereka adalah sanad yang shahih.
Kedua pada halaman 72, paragraf terakhir dari “Kota Santri Semasa Kolonial”. Itu menarasikan “Pada tahun 1941, becak memiliki citra hanya untuk mengangkut anak-anak, khususnya untuk pergi ke sekolah. Sementara orang tua masih malu-malu jika menggunakannya. Ongkos penyewaannya sebesar 20 sen per jamnya, hanya untuk berputar-putar di dalam kota saja”. Dinarasikannya bahwa orang tua malu menggunakannya, Saya sebagai anak dari tukang becak (Muhammad Lutfi) di Pasar Johar Semarang menyatakan “Tidak benar”. Hal itu bukan karena rasa malu, akan tetapi ongkos yang menurut mereka mahal bila kita telisik lagi pada footnote yang ada. Mayoritas tukang becak mereka adalah perokok aktif, jadi sudah sewajarnya ongkos naik becak lebih mahal dari harga rokok.
Ketiga pada halaman 132, paragraf pertama dari “KHR. ASNAWI: Sang Perintis”. Yakni diceritarikan kelahiran Raden Ahmad Syamsi, buah hati pasangan H. Abdullah Husnin dan Raden Sarbinah terdapat tradisi babaran. Yaitu tradisi ketika ada pasangan suami-istri yang habis melahirkan jabang bayi. Tradisi itu mengingatkan Saya tentang pekerjaan Ibu Saya (Sholekhah), yakni seorang dukun bayi yang amat terampil dalam urusan ibu hamil dan melahirkan serta jabang bayi. Amat kental dan terbiasa akan hal itu. Hal dimana rasa syukur antara kedua orang tua jabang bayi dan masyarakat sekitar dengan lahirnya seorang manusia kedunia. Apalagi manusia itu adalah dari keturunan orang yang shaleh dan terhormat.
Keempat pada halaman 182, penegasan kembali “Abdurrahman Mas’ud”. Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D membuka narasi. “Terorisme bukanlah sebuah rangkaian pekerjaan yang bisa ditoleransi karena bukan hanya mengancam pemerintahan saja, melainkan terbukti memakan banyak korban nyawa yang tidak mengerti urasan apapun tentang perebutan kekuasaan misalnya”. Dan seperti kata Gus Dur, “Terorisme bukan masalah sepele, karenanya terorisme harus ditangani secara serius. Dan tentunya penanganan serius ini harus dilakukan karena radikalisme dan terorisme sangat bertentangan dengan budaya pendidikan madrasah, pesantren dan juga budaya Islam di Indonesia”. Dan sebagai alumni penuntut ilmu di madrasah dan pesantren, saya membenarkan hal itu selama 6 tahun, Saya belum pernah mendapatakan pembelajaran tentang radikalisme dan terorisme. Karena Islam itu Rahmatan lil ‘Aalamiin.

Kelebihan
Hal yang membuat Saya menyukai adalah alur tulisannya yang mampu membawa saya untuk kembali mengulang kejadian yang serupa (flashback) dengan gaya bahasa yang sesuai karakter penulis.
Dari segi kertas, kertasnya menggunakan kertas berwarna krem (putih kekuningan) itu menjadikan enak dipandang dan menyehatkan mata, jadi tidak merasa letih.
Pemberian data yang sangat valid berupa tabel data, dokumentasi foto, dan narasi tulisan asli membuat pembaca semakin yakin sejarah itu pernah terjadi.
Apalagi soal para penulis yang begitu banyak, mereka juga para alumnus madrasah Qudsiyyah. Mereka itu merupakan sanad yang mutawattir (shahih).
Kesaksian para alumninya yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka juga telah menjadi orang-orang tersohor.
Tidak lupa pula khazanah daftar pustaka yang begitu melimpah membuat Saya takjub, dengan penuisan buku ini.

Kekurangan
Ketidak teletian ternyata masih menjadi kekurang bagi semua para penerbit, editor dan jajarannya. Sudah jelas bahwa buku ini tokohnya adalah KHR. Asnawi, dibagian bilik atas tulisan ditulis K.H.R. Arwani itu siapa? Perlu adanya ketelitian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar