2016/10/17

AKU HIDUP



AKU HIDUP

Akhmad Khayatuddin, lahir di Semarang, Jawa Tengah 19 November 1994. Anak ke-4 dari 7 bersaudara pasangan Muhammad Lutfi dan Sholekhah, yang lahir dengan bobot 3 kg lebih yang menjadikan satu-satunya bayi terberat dalam keluarganya. Ia hidup di suatu tempat yang dahulu stereotip mengatakan bahwa tempat itu merupakan lokasi perkumpulan preman-preman. Masyarakat menyebutnya Barutikung yang berlokasi di kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara. 
Sesuai dengan namanya, ia hidup dan belajar dalam lingkungan keagamaan. Laki-laki yang penuh percaya diri ini pernah mengeyam bangku Sekolah Dasar di SD Al-Irsyad Al-Islamiyyah Kecamatan Semarang Utara lulus pada tahun 2007. Kemudian ia melanjutkan ke MTs Pabelan dan nyantri di Pondok Peasantren Pabelan Magelang, tak lama jelang setahun ia hijrah ke MTs Baitussalam dan sekaligus nyantri di Pondok Pesantren Baitussalam Mijen Kota Semarang. Tahun 2013 ia menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Semarang sebagai Lulusan Terbaik Angkatan XX pada jurusan Ilmu Pendidikan Alam. Kemudian melanjutkan untuk kuliah di UIN Walisongo Semarang pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, serta aktivis di Lembaga Bahasa Mahasiswa Islam (LBMI) HMI Komisariat Tarbiyah cabang Semarang.
Semasa kecil hingga remaja, Hayat (sebutannya) merupakan orang yang aktif dalam berbagai keorganisasian. Kala duduk di bangku Sekolah Dasar, anak ini aktif dalam mengikuti kegiatan Pramuka hingga meraih juara 1 dalam lomba memecahkan sandi-sandi pramuka tingkat kota. Di MTs ia lebih menyukai seni Kaligrafi dan Tarikh al-Islamiy, hingga ia menghasilkan karya seni melukis kaligrafi di balik kaca di sanggar kaligrafi Pabelan dan berhail menciptakan style “Kaligrafi Cina”, ia menamakannya. Di kelas dua tsanawiyah, ia juara 1 dalam Festival Remaja Sholeh (FRESH) lomba Cerdas Cermat Islam tingkat Kresidenan Semarang.
Waktu ABG, ia tidak hanya aktif dalam sekolah, seperti pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Redaksi Majalah La Tansa, Ketua Karya Ilmiah Remaja (KIR), dan KaBag. Politik di OSIS MAN 2 Semarang. Saat menjadi Ketua Redaksi, ia sering berkerja sama dengan JAWA POS Semarang. Hayat juga menjadi Ambassador bagi sekolahnya dalam berbagai acara antar OSIS se-kota Semarang bersama dua temannya, ketua dan wakil OSIS. Dan ia pernah mengikuti lomba Karya Tulis Ilmiah (Paper Contest for Senior High School) antar se-SMA/sederajat di Jawa Tengah dengan meraih juara 2, judulnya “Mengatasi Abrasi, Rob, dan Banjir di Kota Semarang dengan LRB (Lubang Resapan Biopori) Tanah”, serta ia berhasil menerapkan di kampungnya dari tahun 2010 hingga sekarang tidak terjadi Rob dan banjir lagi.
Di luar sekolah, Mbah Udin (sapa masyarakat) aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Seperti, ikut berkampanye dalam “Pemuda Anti Rokok dan Narkoba” di Semarang. Selama dua periode ia menjabat sebagai Ketua IRMAS al-Ma’ruf dan Ketua Karang Taruna Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara di tengah remaja yang saat itu marak “Pergaulan Bebas”.
Sehari-harinya sebagai pengajar baca tulis al-Quran di kampung halamannya, merupakan sarana untuk menyampaikan ilmu agama yang ia dapatkan. Sekarang ia sedang membangun TPQ sebagai tempat dakwah hidupnya. Hal itu juga merupakan keinginan dari kedua orang tuanya. Proses pembangunannya baru mencapai 25%, ia sangat yakin nantinya tempat itu jika sudah berjalan akan menjadi pusat belajar al-Quran di Barutikung.
Menurut masyarakat sekitar, keluarganya merupakan keluarga yang dipandang mampu memperjuangkan agama Islam di tempat yang masih jahiliyah tersebut. Suatu hari ada yang bilang kepadanya, “Wong seng iso ngerubah Barutikung iki, kudune dudu wong asli kene. Akeh seng tau gagal, buktine wong seng gagal mau malah dadi preman”. Hal itu tidak menyurutkan perjuangannya, dan terbukti sekarang stereotip tersebut sudah lama hilang dengan diadakannya acara-acara keagamaan.
Di perkuliahan ia menginginkan untuk melatih kembali bahasa Arabnya. Walaupun, keterbatasan kosakata yang telah banyak terlupakan. Ia mempunyai kepercayaan tinggi yang mebuatnya memutuskan akan melanjutkan kuliahnya ke Imam Muhammed Islamic University (IMIU) di Riyad. Harapan besar yang ia tanam dalam hatinya adalah menjadi Dosen di IMIU Riyad sekaligus Pengusaha Tambang Minyak di Arab.
Profesi sebagai Pengajar menurutnya adalah suatu kewajiban, layaknya pendakwah dalam menyampaikan keagamaan. Dan pengajar (guru maupun dosen) haram baginya mengambil upah dari mengajar, menurut Hayat. Maka dari itu, Hayat memiliki impian menjadi wirausahawan kelak. Sekarang, Hayat sedang merintis usaha memproduksi tas disela-sela kegiatan kuliahnya. Ia menamai usahanya dengan “Coffe Bag”, usahanya tersebut tidak lain dan tidak bukan bertujuan mendongkrak perekonomian keluarga & kerabatnya di tengah dampak persaingan ekonomi global.