BAB II
PEMBAHASAN
A.
Mempersiapkan
Ide Dasar Karya Tulis Ilmiah
Tulisan
bisa lahir karena adanya ide. Ide dapat diperoleh melalui berbagai saluran dan
cara. Kita bisa mendapatkan ide melalui mata dengan cara mengamati dan melihat.
Telinga dapat digunakan untuk mendengarkan sesuatu yang nantinya dapat menjadi
ide.
Kita
menghayal dengan emosi, dan khayalan itu bisa menjadi tulisan seperti puisi,
cerpen, novel, pantun, drama, dan lainnya. Demikian pula ketika kita merenung
dan berpikir nanti akan muncul ide. Ide yang baik diharapkan menjadi tulisan
yang baik. Untuk itu, perlu diketahui kriteria ide yang mungkin bisa menjadi
tulisan yang baik antara lain:
1.
Ide itu bermanfaat bagi masyarakat atau pembaca
pada umumnya. Perlu dipikir ulang apakah ide yang muncul itu betul-betul
bermanfaat untuk pembaca atau tidak. Ide yang bermanfaat itu antara lain mampu
memberikan pencerahan kepada sebagian besar masyarakat atau pembaca, dan syukur
bisa menjadi solusi atas masalah yang dihadapi.
2.
Objek yang ditulis benar-benar dikuasai
penulis. Penguasaan materi seseorang pada bidang tertentu dapat diketahui pada
kedalaman dan ketajaman analisis yang ditulis dalam karangan atau tulisan
tersebut.
3.
Ide yang akan dituangkan dalam tulisan itu
memiliki kelebihan dari tulisan lain meskipun tema dan objeknya sama.
4.
Gagasan itu merupakan sesuatu yang aktual.
Aktualitas naskah tulisan juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi penulis.
Untuk itu, di sini penulis harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
fenomena masyarakat dari hari ke hari.
5.
Penulis memiliki kemauan dan kemampuan. Kemauan
merupakan modal utama bagi seseorang untuk melakukan kegiatan tulis menulis.
Menjadi penulis tidak bisa dipaksakan, tetapi harus didorong dari keinginan
sendiri yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam. Selain kemauan dan
motivasi yang tinggi, untuk membuat suatu karangan atau tulisan diperlukan
kemampuan. Kemampuan menulis di sini tidak berarti bahwa menulis itu bakat.
Sebab bakat itu sendiri baru diketahui apabila orang berani mencoba dan
berlatih terus menerus. Maka di sinilah berlaku “bisa karena biasa”.[1]
Pada
umumnya untuk mengawali menyusun sebuah tulisan ilmiah, kita memerlukan sebuah
ide, topik, dan judul sebagai pokok bahasan yang membatasi fokus tulisan kita.
Batasan bahasan diperlukan agar kita dapat fokus pada suatu topik tertentu
saja. Dengan begitu kita akan dapat menyajikan pembahasan yang padat, tetapi
berisi, singkat, namun tajam, spesifik, tetapi berkualitas.[2]
Memilih ide dan topik sangat mungkin dipresepsi
identik dengan memilih judul. Sesungguhnya keduanya berbeda. Ketika memilih
topik, sudah ada gambaran mengenai isu-isu yang relevan seputar topik itu.
Berbeda dengan aktivitas memilih judul, yang sesungguhnya tidak berbeda dengan
membuat nama. Ketika penulis merumuskan judul karangan, sangat mungkin isu-isu
yang menyertainya masih sangat kabur.[3]
Namun persoalannya adalah memfokuskan isi sebuah
tulisan bukanlah pekerjaan yang mudah karena begitu banyaknya permasalan di
sekitar kita yang butuh untuk didiskusikan, tetapi kita kesulitan untuk memilih
salah satu di antaranya. Kesulitan itu dimungkinkan terjadi karena tiga sebab: pertama,
kita kekurangan informasi tentang permasalahan-permasalah di sekitar kita sehingga
kita sulit menentukan pilihan. Solusinya ialah kita harus banyak membaca dan
berdiskusi untuk memunculkan ide yang tepat. Kedua, kita dihadapkan pada
sejumlah pilihan yang menarik bagi kita sehingga menyulitkan untuk menentukan
yang terbaik. Solusinya adalah kita harus mencari data dan fakta yang menunjang
tulisan kita. Ketiga, ketika kita telah menetapkan sebuah pilihan, kita
lantas ragu dengan pilihan itu sehingga tidak jadi menggunakannya. Alasannya,
bisa jadi kita merasa pilihan itu ternyata tidak menarik, terlalu sulit
dibahas, atau terlalu sedikit data yang bisa ditemukan. Pemecahannya ialah kita
perlu mendiskusikan ide atau topik tersebut dengan teman atau orang lain yang
dianggap mengerti untuk mendapatkan pandangan yang dapat meyakinkan pilihan kita
terhadap topik itu.
Pilihan terhadap topik yang tepat tidak hanya
berfungsi sebagai batasan masalah sebuah tulisan, tetapi juga berguna untuk
merumuskan judul yang berkualitas.[4]
B.
Merumuskan
Masalah
Setelah
diperoleh ide dari tulisan ilmiah yang akan kita susun, para penulis selanjutnya akan sampai pada
tahap merumuskan masalah. Dalam merumuskan masalah, pasti ada masalah yang akan
dikaji. Para penulis pemula biasanya akan mengalami kesulitan dalam menemukan
masalah tersebut. Oleh karena itu, para penulis pemula sebaiknya banyak
berlatih mengidentifikasi masalah dan merumuskannya secara tepat. Keahlian ini
dapat dibangun dengan cara banyak berlatih. Cara menemukan masalah yang akan
dikaji dapat dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik sebagai berikut:
1.
Kita dapat melihat hasil kesimpulan dan
rekomendasi hasil tulisan atau riset yang pernah dilakukan oleh orang lain.
Biasanya penulis membuat suatu rekomendasi yang menyatakan bahwa riset yang
dilakukan belum selesai secara sempurna. Sehingga penulis lain dapat
melanjutkan riset yang dinyatakan belum selesai secara utuh tersebut dan diperlukan
pengkajian lebih lanjut.
2.
Kita dapat menemukan masalah dengan cara
membaca teori yang berkaitan dengan topik atau ide yang akan dikaji. Jika kita
membaca toeri dan referensi mengenai topik yang berkaitan dengan kajian kita,
maka kemungkinan besar kita akan menemukan ide masalahnya.
3.
Teknik lain ialah dengan melihat masalah yang
sudah dikaji oleh orang lain. Masalah yang sudah dikaji oleh orang lain dapat
dijadikan sebagai bahan inspirasi untuk menemukan masalah sendiri yang kemudian
dapat dikembangkan. Salah satu cara yang efektif ialah dengan memproduksi atau
mengaplikasikan metode yang digunakan dalam konteks yang berbeda. Artinya, kita
dapat mengembangkan masalah yang mirip dengan menggunakan data atau fakta yang
berbeda, yang berasal dari konteks tempat dan waktu yang berbeda.
4.
Jika memungkinkan, kita dapat menemukan masalah
yang baru dan layak untuk diteliti. Tentunya, ini memerlukan usaha yang tidak
mudah karena kita perlu melakukan observasi atau eksperimen yang
berulang-ulang.
Di dalam merumuskan masalah yang akan kita kembangkan
nantinya, penulis juga hendaknya memahami konteks lingkungan masalah.
Disadari atau tidak, masalah yang akan dikaji pada
umumnya terikat suatu konteks tertentu. Oleh karena itu, diperlukan
proses-proses kegiatan dalam menggali masalah yang akan dikaji. Untuk dapat
memahami konteks lingkungan, perlu dilakukan beberapa cara:
1.
Kita dapat melakukan diskusi dengan narasumber
yang mempunyai informasi atau data mengenai masalah yang akan kita paparkan.
Misalnya, perusahaan A yang bergerak dalam bidang penjualan komputer.
Selanjutnya, orang-orang yang berkompeten dalam perusahaan tersebut akan kita
hubungi dan wawancarai. Jika kita akan menulis mengenai masalah pemasaran, maka
narasumber yang tepat untuk memperoleh gambaran masalah tersebut ialah Manajer
Pemasaran.
2.
Tidak jarang pula masalah yang akan dikaji
bersifat spesifik dan memerlukan narasumber yang benar-benar ahli. Dalam kasus
ini, kita setidaknya harus memperoleh informasi atau masukan dari ahlinya.
Misalnya dalam masalah pemasaran, kita dapat berkonsultasi atau membaca
pandangan orang-orang yang ahli dalam bidang tersebut.
3.
Dalam rangka memperoleh pengetahuan mengenai
konteks masalah, kita juga dapat mempelajari data sekunder terlebih dahulu.
Kita dapat menemukan data sekunder yang tersedia di perusahaan-perusahaan, database
online, dan sumber-sumber lainnya.
4.
Selain tiga pilihan teknik tersebut, kita juga
dapat melakukan observasi terlebih dahulu di lokasi tempat kita akan melakukan
riset atau mengkaji masalah yang memang menarik perhatian kita. Dari observasi
tersebut, kita diharapkan dapat memperoleh gambaran mengenai masalah yang akan
kita kaji tersebut.
Setelah kita memahami konteks lingkungan masalah yang
akan dikaji, selanjutnya adalah proses spesifikasi masalah. Untuk melakukan
proses spesifikasi masalah, dapat dimulai dari pernyataan yang bersifat umum,
kemudian menuju komponen-komponen yang lebih spesifik.
Masalah umum: Kita ingin mengkaji masalah produk HP
Nokia Communicator. Komponen-komponen yang spesifik, antara lain masalah fitur,
harga, kualitas, target pasar, layanan purna jual, dan lainnya. Oleh karena
itu, rumusan masalah yang layak untuk diteliti adalah:[5]
a.
Apa saja fitur-fitur baru yang terdapat dalam
HP Nokia Communicator?
b.
Apakah kualitas produk menjadi pertimbangan
utama bagi calon pembeli dari kalangan atas?
c.
Siapa saja target pasar untuk produk tersebut?
d.
Bagaimana agar produk tersebut mampu menarik
minat konsumen di pasaran?
Perumusan masalah
merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesa nantinya. Dari contoh di atas,
dapat kita ketahui bahwa umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi
sebagai berikut:
1.
Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk
pertanyaan.
2.
Rumusan masalah hendaknya padat dan jelas.
3.
Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya
data untuk memecahkan masalah.
4.
Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam
pembuatan hipotesa.
C.
Mengkaji
Teori
Teori
dan hipotesa adalah dua pengertian yang terlebih dahulu harus dipahami
sebaik-baiknya di dalam mempelajari dasar-dasar penelitian suatu karya ilmiah.
Teori dibutuhkan sebagai pegangan-pegangan pokok secara umum, sedangkan
hipotesa dibutuhkan sebagai penjelasan problematika yang dicarikan pemecahan.
Seorang
ahli ilmu pengetahuan tidak hanya bertujuan menemukan fakta, tetapi menemukan
prinsip-prinsip yang terletak dibalik fakta prinsip utama yang dicari ialah
dalil, yakni generalisasi atau kesimpulan yang berlaku umum. Dengan dalil ini
ahli tersebut melanjutkan penyelidikannya untuk meramalkan rangkaian peristiwa
berikutnya. Tentu saja diperlukan sejumlah data untuk dipakai sebagai
pertimbangan penyimpulan sebuah dalil. Akan tetapi sekumpulan data saja belum
memberi jalan yang lapang pada penyelidik, karena data baru mempunyai arti dan
guna bila tersusun dalam satu sistem pemikiran yang disebut teori.[7]
Teori
sebagai titik permulaan di dalam arti bahwa dari situlah bersumbernya hipotesa
yang akan dibuktikan. Misalnya saja seorang penyelidik membangun teori yang
berbunyi bahwa “manusia yang dibesarkan di dalam suasana yang bebas pada
umumnya lebih berkesempatan untuk berhasil maju dengan usaha sendiri daripada
yang dididik di dalam suasana penuh tekanan dan larangan”. Suatu hipotesa yang
mungkin dihasilkan ialah bahwa “anak yang berasal dari keluarga di mana orang
tua tidak meluaskannya keluar rumah untuk mengunjungi berbagai peristiwa, tidak
dapat melakukan tugas luar yang diberikan oleh guru”. Dengan mengkhususkan persoalan
ini pada batas-batas yang dapat diukur (nilai tugas luar yang diberikan pada
anak itu dibandingkan dengan tugas luar murid-murid lainnya dari kategori
“tertekan” dan dari kategori “bebas”), hipotesa itu dapat diuji benar dan
salahnya. Dengan penyelidikan dalam berbagai situasi, dapat diperoleh data yang
meyakinkan akan kebenaran teori tersebut. Sehingga hasilnya dapat dirumuskan
dalam bentuk dalil, misalnya bahwa “motivasi kemajuan manusia yang terdidik
dengan kebebasan adalah lebih baik daripada motivasi manusia yang terdidik
dalam tekanan”.
Dengan
dalil itu, penyelidik dapat meramalkan sifat dan bentuk-bentuk tingkah laku
manusia di dalam bidang tersebut, untuk memungkinkan sampai pada dalil
berikutnya. Dalil-dalil berikutnya itu dapat memperkuat dalil pertama, dapat
pula merubah atau menggantinya. Karena itu teori tersebut tidak diberi sifat
final.
D.
Menggali
Data Lapangan
Verifikasi
data atau proses pengumpulan data sangat diperlukan agar diperoleh data yang
relevan untuk menguji hipotesis. Dalam kerangka berpikir ilmiah, verifikasi
data termasuk berpikir empiris yang dilakukan setelah berpikir rasional selesai
sampai membuahkan hipotesis. Pengamatan mulai dilakukan di lapangan untuk
memperoleh data, yakni informasi yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.
Data yang diperlukan bisa berupa data kualitatif, bisa pula data kuantitatif.
Data kualitatif berkenaan dengan nilai seperti baik, sedang, kurang. Sedangkan
data kuantitatif berkenaan dengan ukuran jumlah dalam bentuk angka-angka. Tanpa
data yang benar dan akurat, pengujian hipotesis bisa keliru sehingga kesimpulan
yang diperoleh menjadi salah. Kebenaran dan ketepatan data yang diperoleh
bergantung pada alat pengumpul data yang digunakan (instrumen) dan sumber untuk
memperoleh data (sampel).[8] Oleh
karenanya, ada dua hal pokok dalam verifikasi data atau mengkaji data lapangan,
yakni:
1.
Metode dan teknik pengumpulan data (instrumen).
Metode dan
instrumen dalam penelitian berkenaan dengan cara bagaimana memperoleh data yang
diperlukan. Metode lebih menekankan pada strategi, proses, dan pendekatan dalam
memilih jenis, karakteristik, serta dimensi ruang dan waktu dari data yang
diperlukan. Sedangkan instrumen menekankan kepada alat atau cara untuk
menjaring data yang dibutuhkan.
Dalam studi
mengenai metodologi penelitian, kita mengenal beberapa metode penelitian
seperti metode penelitian historis,
deskriptif, ex post facto, dan eksperimen.
Metode
penelitian historis digunakan apabila peneliti bermaksud mengungkapkan
peristiwa atau kejadian pada masa lalu. Studi dokumenter adalah contoh dari
metode ini. Sedangkan metode penelitian deskriptif, digunakan apabila bertujuan
untuk mendeskripsikan atau menjelaskan peristiwa dan kejadian yang terjadi pada
masa sekarang. Termasuk dalam metode ini adalah studi kasus, survai, studi pengembangan,
dan studi korelasi.
Metode ex
post facto dalam sebuah penelitian ditujukan untuk melihat dan mengkaji
hubungan antara dua variabel atau lebih, di mana variabel yang dikaji telah
terjadi sebelumnya melalui perlakuan orang lain. Ex post facto artinya
sesudah fakta. Dalam penelitian ini, peneliti tidak perlu melakukan manipulasi
atau perlakuan terhadap variabel bebas, sebab manipulasi telah terjadi oleh
orang lain sebelum penelitian dilakukan.
Seperti halnya
pada metode ex post facto, metode eksperimen mengkaji hubungan dua
variabel atau lebih. Perbedaanya terletak dalam hal variabel bebas. Pada
eksperimen peneliti harus melakukan manipulasi atau perlakuan terhadap variabel
bebas, melakukan pengukuran sendiri terhadap variabel bebas dan variabel
terikat, kemudian membandingkannya dengan variabel kontrol.
Instrumen
penelitian adalah alat untuk memperoleh data. Alat ini harus dipilih sesuai
dengan jenis data yang diinginkan. Instrumen sebagai alat pengumpul data pada
hakikatnya adalah mengukur variabel penelitian. Instrumen yang lazim digunakan
dalam penelitian antara lain kuesioner, observasi, dan tes. Sebagai alat
pengumpul data, instrumen sangat penting peranannya. Sebab tanpa instrumen yang
baik, tidak dapat diperoleh data yang betul-betul dapat dipercaya. Sehingga
bisa mengakibatkan kesimpulan penelitian yang salah.[9]
2.
Populasi dan sampel
Populasi dan
sampel dalam penelitian merupakan sumber data. Artinya, sifat-sifat atau
karakteristik dari sekelompok subjek, gejala, atau objek. Sifat dan
karakteristik tersebut dijaring melalui instrumen yang telah dipilih dan
dipersiapkan oleh peneliti. Populasi tidak terbatas luasnya, bahkan ada yang
tidak dapat dihitung jumlah dan besarnya sehingga tidak mungkin diteliti.
Kalaupun diteliti, memerlukan biaya, tenaga, waktu yang sangat lama, dan tidak
praktis. Oleh karena itu, perlu dipilih sebgian saja asal memiliki sifat-sifat
yang sama dengan populasinya. Proses menarik sebagian subjek, gejala, atau
objek yang ada pada populasi disebut sampel. Dengan demikian, penelitian
dilakukan terhadap samnpel, tetapi hasilnya dapat menaksir populasi
(sifat-sifat dan karakteristiknya).[10]
E.
Mengolah
Data
Melalui
instrumen yang telah dibahas di muka, data yang kita inginkan dapat kita
peroleh dari unsur-unsur sampel. Pada dasarnya data yang telah kita peroleh
untuk menguji hipotesis, sekurang-kurangnya untuk menjawab pertanyaan
penelitian. Artinya, data itu diperlukan untuk membuktikan kebenaran hipotesis.
Benar atau tidaknya dugaan itu akan dibuktikan melalui data yang kita peroleh
dari lapangan. Oleh sebab itu, pada tahapan ini data sebagaimana adanya harus
kita olah, kita susun sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk membuktikan
benar dan tidaknya hipotesis yang telah diajukan atau dirumuskan.
Proses
penyusunan, pengaturan, dan pengolahan data agar dapat digunakan untuk
membenarkan atau menyalahkan hipotesis disebut pengolahan dan analisis data.
Dengan pengolahan dimaksudkan untuk mengubah data kasar menjadi data yang lebih
halus dan lebih bermakna. Sedangkan analisis dimaksudkan untuk mengkaji data
dalam hubungannya dengan keperluan pengujian hipotesis penelitian. Alat yang
digunakan untuk mengolah dan menganalisis data adalah statistika. Ada
dua macam statistika yang bisa digunakan untuk mengolah dan menganalisis data,
yakni statistika deskriptif dan statistika analitik atau
inferensial. Statistik deskriptif terutama digunakan untuk mengolah data
dan mendeskripsikan data dalam bentuk tampilan data yang lebih bermakna dan
mudah dipahami oleh orang lain. Misalnya dalam bentuk tabel-tabel frekuensi,
grafik, nilai rata-rata, simpangan baku, dan lain-lain. Statistik inferensial
digunakan untuk keperluan pengujian hipotesis dan untuk membuat generalisasi
data sampel terhadap populasinya.[11]
Dalam
mengolah data biasanya ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Membersihkan data, artinya memeriksa kembali
jawaban responden, apakah setiap pertanyaan dijawabnya; kalau dijawab, apakah
cara menjawabnya betul, dan lain-lain.
2.
Membuat koding, artinya memberikan tanda atau
kode agar mudah memeriksa jawaban.
3.
Melakukan skoring atau pemberian angka,
khususnya kepada data yang dikuantifikasikan, dan menghitungnya untuk setiap
jawaban responden.
4.
Menggolongkan kategori jawaban dalam
tabel-tabel, baik tabel frekuensi maupun tebel skor atau nilai, sesuai dengan
keperluan.
5.
Mengolah atau menghitung data dengan statistik
deskriptif seperti proporsi, ranking, nilai rata-rata hitung, modus,
median, simpangan baku, dan variansi, sesuai dengan kepentingan peneliti.
6.
Mendeskripsikan hasil-hasil perhitungan
tersebut dalam bentuk tabel, grafik, dan lain-lain.
7.
Membuat interpretasi hasil pengolahan tersebut
dalam bentuk pernyataan-pernyataan verbal sesuai dengan permasalahan
penelitian.
8.
Analisis data lebih lanjut untuk uji hipotesis.
Analisis data adalah kelanjutan dari pengolahan data.
Dalam pengolahan data, tekanan diberikan kepada pengubahan data mentah menjadi
data masak melalui penggunaan statistika deskriptif agar lebih mudah dibaca dan
ditafsirkan. Analisis data tekanannya kepada menguji data (yang diperoleh
melalui statistik deskriptif) dengan menggunakan statistik analitik untuk
menguji hipotesis.[12]
Adapun dalam proses pengolahan data, kita bisa
menggunakan fasilitas komputer dengan paket program yang tersedia seperti
WordStar, Dbase III plus, SPSS/PC+, BMDPC, dan SAS. Melalui program yang
tersedia tadi, kita dapat memasukkan data dan membuat tabel frekuensi sesuai
dengan data yang kita peroleh. Tahap berikutnya adalah editing, yaitu
mengkoreksi kesalahan-kesalahan yang ditemui setelah membaca tabel frekuensi.
Mengedit sangat penting untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan yang muncul
dalam proses pengumpulan atau memasukkan data.[13]
F.
Menarik
Kesimpulan
Suatu
kesimpulan dalam penelitian bukanlah merupakan suatu karangan atau diambil dari
pembicaraan-pembicaraan lain, akan tetapi hasil suatu proses tertentu yaitu
“menarik”, dalam arti “memindahkan” sesuatu dari suatu tempat ke tempat yang
lain. Menarik kesimpulan di sini harus mendasar atas semua data yang diperoleh
dalam kegiatan penelitian. Dengan kata lain, penarikan kesimpulan harus
didasarkan atas data, bukan atas angan-angan atau keinginan peneliti.[14]
Bagian
pokok yang merupakan pengarah kegiatan penelitian adalah perumusan problematika
atau rumusan masalah. Di dalam problematika ini peneliti mengajukan pertanyaan
terhadap dirinya tentang hal-hal yang akan dicari jawabnya melalui kegiatan penelitian. Sehubungan
dengan pertanyaan inilah maka peneliti mencoba mencari jawaban sementara yang
disebut hipotesis. Sedangkan kesimpulan yang ditarik berdasarkan data yang
telah dikumpulkan, adalah merupakan jawaban, benar-benar jawaban yang dicari,
walaupun tidak selalu menyenangkan hatinya.
Simpulan
atau konklusi merupakan rangkuman dari ide-ide yang telah disajikan dalam semua
tulisan. Simpulan atau konklusi ini merupakan pemikiran prespektif akhir
penulis kepada pembaca.[15]
Oleh
karena itu harus tampak jelas hubungan antara problematik, hipotesis, dan
kesimpulan.
Apabila
kesimpulan penelitian merupakan jawaban dari problematik yang dikemukakan, maka
isi maupun banyaknya kesimpulan yang dibuat juga harus sama dengan isi dan banyaknya
problematik. Sebagai ilustrasi dapat dikemukankan contoh berikut:
Problematik
atau rumusan masalah
1.
Apakah orang tua murid di daerah pedesaan
memberikan motivasi belajar yang sama dengan orang tua murid di kota?
2.
Apakah ayah mempunyai peranan yang sama dengan
ibu dalam memberikan motivasi belajar, baik di daerah pedesaan maupun di kota?
Hipotesis
1.
Orang tua murid di daerah pedesaan memberikan
motivasi belajar yang sama besar dengan orang tua di kota.
2.
Ayah dan ibu memberikan motivasi belajar yang
sama besar kepada anak-anaknya, baik di daerah pedesaan maupun di kota.
Kesimpulan penelitian (salah satu kemungkinan)
1.
Orang tua murid di daerah pedesaan tidak dapat
memberikan motivasi belajar sebesar yang diberikan oleh orang tua di kota.
2.
Ada perbedaan yang signifikan antara ayah dan
ibu di dalam memberiakn motivasi belajar, baik bagi orang tua murid di daerah
pedesaan maupun di kota.[16]
Kesimpulan di sini juga
bisa memuat implikasi dari penelitian tersebut dan ada kalanya disarankan pula
penelitian lanjutan. Sifatnya berbeda dengan ikhtisar yang funngsinya agar
pembaca dapat mengetahui dengan cepat hasil penelitian itu sebagai keseluruhan.[17]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar